A Reflection of Life

Footnotes are not the main point, but it supports the main idea

Sebuah nostalgi

Agak melankolis memang, judul tulisanku kali ini. Tapi ya memang suasana saat ini mengingatkanku pada masa-masa di lorong dulu, ketika hari-hariku adalah TI, bergulat dengan kode-kode, diagram, alur bisnis proses, setting IP, tugas-tugas, presentasi, de el el.

Saat ini aku di Surabaya, untuk kedua kalinya bermalam di Inna Simpang. Koneksi internet untuk hotel ini sepertinya hanya ada di lobby, tidak ada di kamar. Namun demikian, agak lumayan santai suasana di lobby.. sambil bersama teman-teman dari KBI yang sedang mempersiapkan sistem yang akan disimulasikan besok. Suasana inilah yang membuatku kembali bernostalgi. Bermalam hingga larut, sambil asyik terus bergelut dengan kode-kode sambil mendengarkan musik-musik pop atau instrumentalia ringan, dengan segelas air putih yang selalu diisi ulang.

Antara IT dan HI, dua bidang itu yang menjadi fondamenku selama sekolah, namun nyaris tak satupun menjadi bidang pekerjaan yang aku geluti sekarang ini. HI, nyaris tidak pernah lagi aku sentuh karena pekerjaan juga jauh dari masalah politik luar negeri, apalagi soal keamanan dan perdamaian yang jadi core waktu kuliah dulu di HI, sedangkan TI masih cukup lumayan.. masih sering ada kegiatan, tugas, peristiwa, atau bahkan sedikit pekerjaan sampingan yang menyebabkan aku harus bersinggungan lagi untuk bertemu dengan TI. Lentera jiwaku,… masih sebuah misteri untukku.

  • 0 Comments
  • Filed under: General
  • Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Walillahilham..

    Alhamdulillah,.. segala puji bagi-Mu ya Allah, Engkau telah mengijinkan kami dapat berqurban di tahun ini. Untuk kami, ini adalah qurban kali pertama yang dilakukan. Satu kambing disembelih di masjid belakang rumah, dan satu lagi ikut urunan sapi untuk disembelih di Jogja. Pingin rasanya mo nyembelih sendiri kambing qurban itu, tapi.. tiba2 tiba ga tega rasanya, akhirnya ya udah deh dipercayakan saja sama sang penjagal. Ga terbayangkan gimana kebesaran iman dan ketaqwaan Nabi Ibrahim a.s. yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail, a.s. Jauuuh.. padahal cuma kambing aja ga tega..

    Ibadah Qurban memiliki kaitan yang kuat dengan Ibadah Haji. Hmm.. berkaitan dengan ibadah haji ini, ada satu yang cukup berbekas di benak ini. Bahwa esensi ibadah Haji adalah lebih dari sekedar kenikmatan ketika melakukan ibadah di tanah suci Mekah. Tanah suci tempat Rasulullah SAW lahir dan menjalankan da’wahnya. Di sana pula nabi Ibrahim pernah menapakkan kakinya untuk membangun kembali Ka’bah. Di sana pula, Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim a.s., ibunda Nabi Islmail a.s pernah mencari-cari air ke dua bukit.

    “Rasanya pingin kembali lagi ke sana”, itu kata bundaku sepulangnya dari tanah suci beberapa tahun lalu. Kenikmatan ruhani yang tidak terbilangkan untuk diukur dan digambarkan. Tapi esensi ibadah haji ternyata jauh daripada itu. Kenikmatan yang dirasakan merupakan jamuan yang diberikan Allah kepada para tamunya. Namun lebih daripada itu, haji menjadi sangat signifikan ketika sepulangnya para haji tersebut kembali ke tanah airnya masing-masing, ketika hidup bermasyarakat. Inilah salah satu contoh pula yang diberikan oleh Rasulullah SAW ketika merasakan kenikmatan yang tak terhingga bisa berada sangat dekat dengan Allah, ketika peristiwa Isra Mi’raj di langit ketujuh. Rasul dengan kenikmatan yang dirasakan itu justru ingat kepada umatnya,.. dan kembali ke kehidupannya. Cerita lengkapnya bisa dicari di literatur lain.

    Semoga,.. ibadah haji dan qurban ini bisa menjadi momen penting khususnya bagi aku dan keluargaku untuk kembali mengukur diri, sejauh mana ketaqwaan ini,.. pengorbanan apa yang telah dilakukan untuk membuktikannya dan seberapa banyak keberadaan kita memberikan rahmat bagi lingkungan dimana kita berada ?

  • 0 Comments
  • Filed under: General
  • Ini adalah tulisan pertama dari, entah bakal ada berapa tulisan, yang akan mencoba membahas tentang gimana si sebenernya Marketiva itu. Pun, ini bukan pesan sponsor yang coba mengiklan di blogku. Tapi ini adalah sekedar sebuah tulisan yang mencatat hal-hal yang aku pelajari dari perdagangan derivatif online (online trading), khususnya menggunakan Marketiva. Sebelumnya, terima kasih untuk Kang Kadia yang pertama kali mengenalkanku pada perdagangan jenis ini. Awalnya, marketiva agak familiar karena kebetulan aku lagi pake OS Linux Mandriva,.. hehe mirip kirain ada hubungannya, setidaknya developernya, ternyata dugaanku salah.

    (bersambung…)

    Invisible YM

    Sesekali memang asyik bisa mengamati siapa aja yang lagi online, tanpa mereka yang diamati tau klo kita online. Atau, kadang kita lagi butuh privasi untuk bisa berkomunikasi tanpa ingin diganggu yang lain.. mungkin disebabkan oleh seribu satu alasan itulah Yahoo! memberikan fitur invisible di messengernya.

    Hmm,.. pernah sesekali aku sekedar coba2 aja,.. di buzz! aja userid yg mo disapa tanpa peduli statusnya lagi off, karena dia sering invisible. Dan ternyata.. bener dia invisible, dan heran.. “koq tau aku invisible ?”

    Dari tulisan seorang teman diblognya (http://diditputra.kompasiana.com/2008/09/22/konfirmasi-status-invisible-di-ym/), ternyata udah ada situs yang bisa mendeteksi invisible-nya user di Yahoo Messenger di  http://invisible.ir/

    Lentera Jiwa

    Seorang temanku suatu ketika mengirimkan sebuah artikel pendek lewat YM!, tapi karena batasan karakter di YM! yang ga mengijinkan pesan panjang, maka aku minta coba deh dikirimkan via email.. Berikut adalah kutipan pesan itu (yang ternyata juga disadur dari Kick Andy) :

    Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena pecah kongs dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power
    yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

    Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke SekolahTinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

    Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

    Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese. Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

    Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidakperlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama. Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

    Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri. Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.  Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa  tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing,  mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata  tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang  pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia. Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi  apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata  putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling  banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang — dan membuat mereka tidak bahagia — adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

    Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih  menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya  sebagai salah
    satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini  memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya  kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara  mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

    Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untukmenggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi.Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

    Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

    Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu
    personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya.  Hidup saya, katanya.

    Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

  • 1 Comment
  • Filed under: General
  • Calendar

    March 2010
    M T W T F S S
    « Jan    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  

    Sponsor