A Reflection of Life

Footnotes are not the main point, but it supports the main idea

Setetes embun di siang hari

Tiba-tiba aja terbayang gambaran itu ketika membaca artikel yang dikirim seorang teman ke emailku. Ternyata,.. di negeri ini, ditengah-tengah panas teriknya berita keadilan, hukum, ham, yang membuat kering dan semakin kering negeri ini, masih ada setetes embun yang memberikan kesejukan.

Berikut ini adalah artikel yang dikutip dari Gatra, edisi 8 September 2007. (http://www.gatra.com/artikel.php?id=107584)

Dandim Lebak Suka Menyamar Jadi Tukang Becak

Lebak, 8 September 2007 08:40
Komandan Distrik Militer (Dandim) 0603 Kabupaten Lebak, Letkol Inf Bambang Heriadi, suka menyamar jadi tukang becak, karena rasa ingin tahu yang begitu besar akan nasib dan penderitaan orang-orang kecil, seperti penarik becak, pedagang kaki lima dan pedagang asongan di Kota Rangkasbitung.

“Saya banyak menerima keluhan orang-orang kecil sering diganggu aparat pemerintah maupun oknum TNI, sehingga saya menyamar sebagai penarik becak itu,” kata Bambang Heriadi, Jumat.

Selama menyamar, ia mengaku, menemukan laporan seorang pedagang nasi di Pasar Rangkasbitung, karena beberapa oknum TNI dari kesatuan tertentu tidak membayar setelah makan di warung itu.

Dari laporan tersebut, ia langsung menelepon Komandan Rayon (Danyon) kesatuan mereka, agar mau bertanggung jawab untuk membayar uang makan itu.

“Alhamdulilah, setelah saya telepon Danyon itu mau bertanggungjawab dan membayarnya,” katanya.

Setelah itu, ia juga melihat secara langsung penertiban Pedagang Laki Lima (PKL), sehingga akhirnya Bambang meminta aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), agar memberikan tindakan persuasif dan jangan sampai kekerasan yang dilakukan petugas.

Akibat saran yang diberikannya, ia sempat digertak oleh petugas Satpol PP.

“Saya langsung menelepon komandan Polisi Pamong Praja itu, agar bertindak lebih manusiawi lagi kepada rakyat kecil, seperti PKL itu,” katanya.

Pengalaman penyamaran, kata dia, ternyata sangat positif mengingat selama ini masyarakat yang tertindas oleh aparat tidak segera melaporkan karena takut.

“Saya akan memberikan sanksi berat jika menemukan anak buah yang menyakiti rakyat kecil itu. Sebab, TNI adalah milik rakyat dan harus dekat dengan rakyat,” ujarnya.

Menurut dia, pekerjaan orang kecil, seperti penarik becak, PKL dan pedagang asongan patut dihargai, karena mereka bekerja untuk membantu orang lain, serta memenuhi kebutuhan keluarganya. [TMA, Ant]

Banyak pelajaran memang dari kisah ini. Semoga saja, segera muncul embun-embun baru yang akan membuat suasana panas ini berubah menjadi sejuk.

  • 0 Comments
  • Filed under: General, Reflection
  • Lebih dari hanya sekedar tesis

    Kalau saja waktu bisa mundur ke belakang, kemungkinan besar aku akan lebih berhati-hati dalam menentukan judul untuk tesisku ini.

    Agak sulit, bahkan hingga hari ini, untuk dapat menerima kenyataan bahwa tesisku ini “ternyata” menurut sebagian orang tidak layak menjadi tesis, bahkan cukup bisa dilakukan hanya untuk level diploma. Apa yang dikatakan itu sesungguhnya aku rasakan juga di awal pemilihan judul. Jujur saja, awalnya bukan aku yang menginginkan judul ini. Judul ini hanyalah sebuah backup judul takut kalau-kalau judul yang aku ajukan sendiri (walaupun sudah dengan segala persiapannya) ditolak. Administrasi jurusan sudah mengingatkan sebelumnya, sebaiknya judul yang diajukan lebih dari satu, kalau tidak ingin tesis menjadi mundur (yang berarti juga keluar biaya tambahan). Pertimbangan itu yang akhirnya membuatku untuk segera mencari judul yang sudah pasti diterimanya, dan aku cukup mampu mengerjakananya.. walhasil, Tesis tentang Sistem Informasi Bengkel terpilih sebagai judul cadanganku, dengan asumsi sudah pasti diterima (karena ditawarkan oleh dosen) dan aku sanggup mengerjakannya, karenan berbasis web. (selain memperdalam ilmu web-ku).

    Tapi, ternyata kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Pertama, judul yang telah ku persiapkan matang2 ternyata di tolak, sehingga judul cadangan menjadi judul tesisku (sesuai dengan perkiraan, apabila judul pertama ditolak). Selanjutnya, ternyata judul yang diajukan dosen, walaupun kemungkinan besar dapat diterima sebagai judul tesis,.. dalam perjalanannya mendapatkan “kritikan” juga dari dosen lain, yang menganggap judul itu terlalu mudah, tidak layak sebagai tesis. Hal itu sesunggunnya sudah aku rasakan sebelumnya, mungkin intuisiku sudah mengatakannya, dan ternyata tepat. Aku sudah melakukan pendalaman di sana sini,.. tetapi pada akhirnya tetap saja hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga, saat ini jujur saja, aku sedang terpuruk..

    Sesungguhnya ada satu pelajaran berharga yang kudapat kali ini, bahwa ini tidak hanya ujian tesis untukku, tetapi juga ujian karakter diri. Sudah seharusnya (menurut suara hatiku) aku tetap melanjutkan judul ini, karena itu adalah komitmenku dengan dosen pembimbing di awal, termasuk juga itu adalah pilihan yang telah ku tentukan. Selain itu, hal ini juga menjadi tantanganku, apakah aku dapat melaluinya atau tidak… menjadikan apa yang biasa, menjadi luar biasa. Saat ini ? ahh.. sepertinya semuanya begitu sulit. Tapi semoga ini juga menjadi jalanku untuk dapat mendekatkan diri pada-Nya. Karena aku begitu rindu untuk dapat menangis lagi ketika bermunajat.. merasakan kedekatan diriku dan -Nya.

  • 0 Comments
  • Filed under: Reflection
  • Berawal dari Bola ?

    Musim Piala Asia kali ini sepertinya berbeda dari musim-musim sebelumnya. Indonesia yang jelas-jelas dianaktirikan, pada pertandingan-pertandingan kemarin justru menjawab dengan bukti. Berhasil mengalahkan Bahrain 2-1, lalu berhadapan dengan Saudi Arabia yang beberapa kali menjuarai Piala Asia pun Tim Merah Putih berhasil menahan Saudi dengan 1-1 walaupun akhirnya pada menit terakhir “keberuntungan” berpihak pada Saudi, sehingga skor menjadi 2-1 untuk Saudi. Tapi kalau melihat rithme permainan, ckckck.. mengutip seperti apa yang dikatakan pengamat bola. Selama 30 Tahun, inilah permainan terbaik Indonesia.  Aku sendiri masih sedikit tidak percaya melihat permainan Indonesia, walaupun aku bukan termasuk orang yang maniak bola, tapi permainan Bambang Pamungkas, dkk memang memperlihatkan permainan yang cantik.

    Ada satu hal lain yang menarik, stadion Senayan dipenuhi berbagai suporter yang jelas-jelas berasal dari pendukung tim-tim yang berbeda. Tapi tidak ada perkelahian, pertikaian di antara mereka. Seakan-akan mereka adalah satu. Menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan hanyutlah mereka dalam satu perasaan mendalam..

    Sepertinya Bola menjawab kehausan rakyat selama ini. Kehausan  akan permainan bola yang cantik, kehausan juga pada rasa persatuan. Tanggapan dari pemerintah juga luar biasa. Dukungan demi dukungan diberikan, tidak hanya semata-mata himbauan atau anjuran dan pujian, tetapi juga hadiah-hadiah yang luar biasa. Benar-benar.. bola seperti menjawab rasa haus itu.

    Sepertinya bola bisa menjadi satu langkah awal alternatif yang dapat ditempuh untuk dapat memperbaiki bangsa ini.

  • 0 Comments
  • Filed under: General, Reflection
  • Bahasaku.. nasibmu kini..

    Belum lama ini aku pulang ke Jakarta. (Tapi kadang bingung juga, antara pulang dan berangkat, untuk saat ini jadi semakin ga jelas. Rumah ada di Jogja dan Jakarta,… dalam 1 minggu: 4 hari di jogja, 3 hari di jakarta). Tiba di stasiun gambir ada satu papan yang berisi tulisan himbauan menarik perhatianku. Sepintas aku baca semua normal, tapi koq ada yang kayaknya janggal.. ting ! ternyata ada penulisan yang tidak sesuai dengan EYD. Kata hubung “di” seharusnya dipisah dengan “dalam”, karena dalam menunjukkan tempat. Keherananku bukan pada penulisannya, tapi lebih pada koq bisa tulisan salah tetap terpasang di papan yang jelas-jelas tempat umum, banyak orang baca, apalagi mengingat Stasiun GAMBIR adalah stasiun besar di ibu kota negara RI ini.

    Tulisan itu sepertinya merefleksikan gimana kondisi Indonesia saat ini. Toleransi kita memang sangat tinggi, tapi sayangnya termasuk juga ke toleransi terhadap kesalahan. Mungkin karena alasan “daripada tambah biaya untuk memperbaiki tulisan”, atau karena alasan “tidak tau apakah itu benar/salah”. Ketidakpedulian, juga sering kali menghinggapi bangsa ini. Tidak peduli dengan nasib orang lain, tidak peduli apakah ini tindakan ini benar atau salah, tidak peduli dengan kepentingan dan hak orang lain sering menjadi nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

    Kasus tulisan itu, jadi mengingatkanku pada kasus larangan terbang maskapai Indonesia ke Eropa.. Indonesia terlalu menganggap enteng (baca: toleransi tinggi) pada kesalahan kecil. Jadi ya begitulah… memang, namanya musibah bisa terjadi di mana saja di luar kendali kita. Tapi, masalahnya yang terjadi di Indonesia, dalam dunia penerbangan yang jelas-jelas ratusan nyawa jadi taruhannya, toleransi pada lampu indikator yang mati masih tinggi.

    Semoga, Indonesia, bangsaku ini bisa banyak belajar dari peristiwa yang ada.. Ah, pekerjaan yang sangat besar memang.. tapi setidaknya harus dimulai dari yang paling kecil, dan dari saat ini.. dari diri ini, dari detik ini..

    Semoga..

  • 0 Comments
  • Filed under: General
  • Writing Bad News Letter

    This article is only available in Bahasa Indonesia

    Surat merupakan salah satu bentuk dari komunikasi tertulis. Seperti pada bentuk komunikasi lainnya, efektifitas komunikasi menjadi tujuan utama dari komunikasi melalui surat. Dikarenakan komunikasi tertulis lebih bersifat satu arah, maka banyak aturan-aturan/syarat-syarat yang harus dipenuhi supaya apa yang ingin disampaikan dapat diterima secara utuh, tanpa ada ambiguitas informasi oleh responden.

    Dalam menyampaikan berita baik, mungkin akan lebih mudah penyampaiannya dikarenakan kita tidak terlalu takut terhadap respon dari orang yang kita ajak berkomunikasi, apakah kabar yang kita sampaikan itu akan membuatnya sedih/kecewa karena cenderung orang lebih siap untuk menerima berita baik daripada buruk. Bagaimana dengan berita buruk ? Penyampaian berita buruk, sepertinya membutuhkan sedikit keterampilan sehingga berita buruk yang disampaikan dapat direspon secara positif oleh orang yang kita ajak berkomunikasi. Apabila kita menyampaikan berita tersebut apa adanya, seringkali justru makin memperburuk keadaan.

    Menyampaikan berita buruk secara tertulis, sepertinya lebih mudah daripada menyampaikan berita tersebut secara lisan, hal ini disebabkan oleh pemilihan kata dan cara penyampaian yang bisa kita telaah lagi, apakah sudah cukup baik atau belum. Apabila ternyata dirasakan kurang baik, masih bisa kita rubah sebelum sampai pada responden, sehingga terbaca tidak terlalu emosional atau bahkan terlalu melankolis.

    Bagaimana menyampaikan kabar buruk melalui tulisan ? ada beberapa poin yang bisa menjadi acuan untuk membantu penulisan surat kabar buruk :

    Pertama, pendahuluan adalah bagian yang sangat penting. Bagian ini menentukan bagaimana konteks berita buruk tersebut akan disampaikan, dan konteks sangat mempengaruhi terhadap bagaimana berita itu nantinya akan diterima oleh orang yang akan kita berikan kabar. Hindari penyampaian berita langsung pada berita buruk, tetapi coba didahului dengan sesuatu yang positif terlebih dahulu. Gambarkan hal-hal yang berlangsung dengan baik, atau sesuatu yang nantinya akan menjadi positif di masa mendatang (berkaitan dengan berita yang akan disampaikan).

    Kedua, letakkan berita buruk yang ingin disampaikan pada bagian tengah surat yang kita tulis. Jadi, misalnya surat kita terdiri dari 5 paragraf, letakkan berita buruk yang ingin disampaikan pada paragraf ke-3. Namun perlu diperhatikan, penulisan jangan sampai terkesan menutup-nutupi berita yang sebenarnya.

    Ketiga, setelah berita buruk disampaikan, sertakan pula pelajaran yang mungkin bisa diambil dari peristiwa tersebut, sehingga dapat menjadi perbaikan untuk masa mendatang atau menghasilkan satu strategi baru untuk terus melangkah ke depan. Hal ini menjadi semacam obat yang dapat, walaupun tidak menyembuhkan, mengurangi rasa “sakit� yang timbul. Pada bagian ini, poinnya adalah bagaimana bisa membuat kelemahan menjadi kekuatan.

    Keempat, akhiri surat tersebut dengan menyampaikan rasa simpati anda yang mendalam, bahwa anda sangat menaruh perhatian terhadap peristiwa tersebut. Cobalah untuk berempati, menempatkan diri anda pada posisi pembaca yang menerima kabar buruk tersebut. Menyampaikan apa harapan anda terhadap pembaca setelah mengetahui berita buruk tersebut, bisa juga dituliskan pada bagian ini.

    Kepercayaan adalah kata kunci dalam penyampaian berita buruk. Ketika kita menyampaikan berita buruk kepada seseorang, maka kepercayaan orang itu pada kita menjadi taruhannya. Apalagi apabila kondisinya sangat bertolak belakang, artinya pada saat yang sama kita justru memperoleh berita baik, apalagi pada konteks peristiwa yang sama. Karenanya, hindari kata-kata yang terbaca menggurui, sebaliknya gunakan kata-kata yang lebih bersifat empati.

  • 0 Comments
  • Filed under: General
  • Calendar

    September 2010
    M T W T F S S
    « Apr    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  

    Sponsor