A Reflection of Life

Footnotes are not the main point, but it supports the main idea

Archive for September, 2008

Invisible YM

Sesekali memang asyik bisa mengamati siapa aja yang lagi online, tanpa mereka yang diamati tau klo kita online. Atau, kadang kita lagi butuh privasi untuk bisa berkomunikasi tanpa ingin diganggu yang lain.. mungkin disebabkan oleh seribu satu alasan itulah Yahoo! memberikan fitur invisible di messengernya.

Hmm,.. pernah sesekali aku sekedar coba2 aja,.. di buzz! aja userid yg mo disapa tanpa peduli statusnya lagi off, karena dia sering invisible. Dan ternyata.. bener dia invisible, dan heran.. “koq tau aku invisible ?”

Dari tulisan seorang teman diblognya (http://diditputra.kompasiana.com/2008/09/22/konfirmasi-status-invisible-di-ym/), ternyata udah ada situs yang bisa mendeteksi invisible-nya user di Yahoo Messenger di  http://invisible.ir/

Lentera Jiwa

Seorang temanku suatu ketika mengirimkan sebuah artikel pendek lewat YM!, tapi karena batasan karakter di YM! yang ga mengijinkan pesan panjang, maka aku minta coba deh dikirimkan via email.. Berikut adalah kutipan pesan itu (yang ternyata juga disadur dari Kick Andy) :

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena pecah kongs dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power
yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke SekolahTinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese. Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidakperlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama. Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri. Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.  Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa  tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing,  mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata  tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang  pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia. Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi  apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata  putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling  banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang — dan membuat mereka tidak bahagia — adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih  menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya  sebagai salah
satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini  memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya  kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara  mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untukmenggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi.Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu
personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya.  Hidup saya, katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

  • 1 Comment
  • Filed under: General
  • Perjalanan Kedua

    Cirebon akhirnya terpilih jadi kota yang kami kunjungi selanjutnya setelah tepat pada tanggal pernikahan  setahun yang lalu, Bandung jadi kota tujuan kami.

    Udah dua tahun, antara terasa dan tidak terasa waktu berjalan.. sejak saat itu pula udah banyak cerita bersama yang dilalui. Pernah terjadi perselisihan, kesalahpahaman yang melengkapi kegembiraan dan ketertauan hati kami. Beberapa tanda tanya yang masih samar diawal kebersamaan ini, satu demi satu mulai terjawab. Satu yg masih belum terjawab saat ini adalah.. bilakah datangnya sang buah hati ?

    Ditulisan ini, aku ga mau bermaksud mencoba menjawab tanda tanya itu, tapi lebih pada catatan perjalanan kami kali ini.. ke kota cirebon.

    Sejak bulan Juli 2008, aku mulai berpikir dan mencari ide,.. kemana ya kira-kira kota tujuan yang cocok untuk kembali melakukan perjalanan keluar kota untuk keluargaku yang notabene masih termasuk keluarga kecil, bahkan sangat kecil (suami & istri). Secara, banyak kota-kota besar di jawa ini sudah dikunjungi dan mau keluar jawa budget keuangan tidak memungkinkan. Akhirnya,.. aku mulai mencoba mempersempit penentuan kriteria dengan memilih kota-kota besar (bukan jaman ini, tapi jaman dulu..). lalu munculah Cirebon,.. sebagai kota pelabuhan yang besar di jamannya dulu. bahkan masuk dalam perhitungan VOC. Selain itu, pada masa kesultanan masih berkuasa, Cirebon sempat menjadi pusat tempat orang menuntut ilmu keagamaan dan kebudayaan.

    Coba browsing-browsing di Internet tentang Cirebon,.. ketemu deh beberapa hal menarik dari Cirebon, seperti keraton Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan yang punya cerita/sejarah saling terkait satu sama lain. Tempat makan dengan beberapa menu yang khas juga dimiliki Cirebon, seperti Nasi Jamblang, Empal Genthong dan Nasi Lengko. Ok then,.. biaya ke cirebon juga masih affordable dan waktu untuk ke kota itu juga ga terlalu lama dari jakarta, sekitar 3 jam pake kereta. Akhirnya,.. Cirebon !

  • 0 Comments
  • Filed under: General
  • Calendar

    September 2008
    M T W T F S S
    « Jun   Oct »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  

    Sponsor