A Reflection of Life

Footnotes are not the main point, but it supports the main idea

Archive for July, 2007

Berawal dari Bola ?

Musim Piala Asia kali ini sepertinya berbeda dari musim-musim sebelumnya. Indonesia yang jelas-jelas dianaktirikan, pada pertandingan-pertandingan kemarin justru menjawab dengan bukti. Berhasil mengalahkan Bahrain 2-1, lalu berhadapan dengan Saudi Arabia yang beberapa kali menjuarai Piala Asia pun Tim Merah Putih berhasil menahan Saudi dengan 1-1 walaupun akhirnya pada menit terakhir “keberuntungan” berpihak pada Saudi, sehingga skor menjadi 2-1 untuk Saudi. Tapi kalau melihat rithme permainan, ckckck.. mengutip seperti apa yang dikatakan pengamat bola. Selama 30 Tahun, inilah permainan terbaik Indonesia.  Aku sendiri masih sedikit tidak percaya melihat permainan Indonesia, walaupun aku bukan termasuk orang yang maniak bola, tapi permainan Bambang Pamungkas, dkk memang memperlihatkan permainan yang cantik.

Ada satu hal lain yang menarik, stadion Senayan dipenuhi berbagai suporter yang jelas-jelas berasal dari pendukung tim-tim yang berbeda. Tapi tidak ada perkelahian, pertikaian di antara mereka. Seakan-akan mereka adalah satu. Menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan hanyutlah mereka dalam satu perasaan mendalam..

Sepertinya Bola menjawab kehausan rakyat selama ini. Kehausan  akan permainan bola yang cantik, kehausan juga pada rasa persatuan. Tanggapan dari pemerintah juga luar biasa. Dukungan demi dukungan diberikan, tidak hanya semata-mata himbauan atau anjuran dan pujian, tetapi juga hadiah-hadiah yang luar biasa. Benar-benar.. bola seperti menjawab rasa haus itu.

Sepertinya bola bisa menjadi satu langkah awal alternatif yang dapat ditempuh untuk dapat memperbaiki bangsa ini.

  • 0 Comments
  • Filed under: General, Reflection
  • Bahasaku.. nasibmu kini..

    Belum lama ini aku pulang ke Jakarta. (Tapi kadang bingung juga, antara pulang dan berangkat, untuk saat ini jadi semakin ga jelas. Rumah ada di Jogja dan Jakarta,… dalam 1 minggu: 4 hari di jogja, 3 hari di jakarta). Tiba di stasiun gambir ada satu papan yang berisi tulisan himbauan menarik perhatianku. Sepintas aku baca semua normal, tapi koq ada yang kayaknya janggal.. ting ! ternyata ada penulisan yang tidak sesuai dengan EYD. Kata hubung “di” seharusnya dipisah dengan “dalam”, karena dalam menunjukkan tempat. Keherananku bukan pada penulisannya, tapi lebih pada koq bisa tulisan salah tetap terpasang di papan yang jelas-jelas tempat umum, banyak orang baca, apalagi mengingat Stasiun GAMBIR adalah stasiun besar di ibu kota negara RI ini.

    Tulisan itu sepertinya merefleksikan gimana kondisi Indonesia saat ini. Toleransi kita memang sangat tinggi, tapi sayangnya termasuk juga ke toleransi terhadap kesalahan. Mungkin karena alasan “daripada tambah biaya untuk memperbaiki tulisan”, atau karena alasan “tidak tau apakah itu benar/salah”. Ketidakpedulian, juga sering kali menghinggapi bangsa ini. Tidak peduli dengan nasib orang lain, tidak peduli apakah ini tindakan ini benar atau salah, tidak peduli dengan kepentingan dan hak orang lain sering menjadi nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

    Kasus tulisan itu, jadi mengingatkanku pada kasus larangan terbang maskapai Indonesia ke Eropa.. Indonesia terlalu menganggap enteng (baca: toleransi tinggi) pada kesalahan kecil. Jadi ya begitulah… memang, namanya musibah bisa terjadi di mana saja di luar kendali kita. Tapi, masalahnya yang terjadi di Indonesia, dalam dunia penerbangan yang jelas-jelas ratusan nyawa jadi taruhannya, toleransi pada lampu indikator yang mati masih tinggi.

    Semoga, Indonesia, bangsaku ini bisa banyak belajar dari peristiwa yang ada.. Ah, pekerjaan yang sangat besar memang.. tapi setidaknya harus dimulai dari yang paling kecil, dan dari saat ini.. dari diri ini, dari detik ini..

    Semoga..

  • 0 Comments
  • Filed under: General
  • Calendar

    July 2007
    M T W T F S S
    « Jun   Aug »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  

    Sponsor