Footnotes are not the main point, but it supports the main idea
18 Jan
Dari sebuah catatan rekan di facebook, meneruskan juga dari milis tetangga.
Sambil terus menunggu kapan hadirnya sang buah hati..
Orangtua atau Bos di Rumah?
Written By:
Dikutip langsung dari grup tetangga..semoga bermanfaat:
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Direktur Auladi Parenting School/Pendiri Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA)Ayah Bunda, dalam diri anak-anak Anda bisa jadi ada darah Anda. Hanya saja, tidak semua orangtua jadi orangtua sebenarnya untuk anak-anaknya, tapi hanya menjadi Bos Anak, yakni menjadi Bos di Rumah untuk anak-anaknya.
Bos Anak, membuat takut dalam diri anak-anaknya
Orangtua membangun kepercayaan anak-anak nyaBos Anak sering mengatakan “Pokoknya Mama Papa Tidak Mau….”
Orangtua sering mengatakan “Mama Papa Sangat Senang Jika Kamu….”Bos Anak sangat tahu bagaimana mengatur anak
Orangtua sangat tahu bagaimana membina anakBos Anak selalu mengendalikan anak
Orangtua membantu anak mengendalikan dirinya sendiriBos Anak berfokus pada keburukan anak
Orangtua berfokus pada kebaikan anakBos Anak bicara pada saat anak berantem
Orangtua bicara pada saat anak rukunBos Anak menguasai anak
Orangtua bekerjasama dengan anakBos Anak menyelesaikan hampir semua masalah anak
Orangtua melatih anak menyelesaikan masalahnya sendiriBos Anak sangat lihai menyalahkan saat anak bermasalah, mundur ke belakang
Orangtua rendah hati menemukan solusi bersama saat anak bermasalah, maju ke depanBos Anak mengatakan “lain kali jangan kayak gitu!” saat anak minta maaf
Orangtua mengatakan “Subhanallah, alhamdulillah, anak Mama Papa berlapang dada meminta maaf”Bos Anak itu otoriter pada anak
Orangtua itu otoritatif pada anakBos Anak nonton tv pada saat anak belajar
Orangtua mematikan tv pada saat anak belajarBos Anak selalu menanyakan ‘bagaimana pelajaran kamu hari ini? Bagaimana nilaimu?’
Orangtua menanyakan ‘apa yang membuatmu tertawa hari ini di sekolah nak?’Bos anak menceramahi anak ‘mama papa bilang apa, kamu sih banyak main, nilaimu jadi jelek begini, prestasimu turun!’
Orangtua bicara dengan anak ‘mama papa yakin kamu kecewa dan sedih dengan nilai belajarmu. Adakah yang bisa mama papa bantu agar nilaimu jadi lebih baik?’Bos anak mengusir anak saat pulang kerja ‘sana jangan dekat-dekat, kamu tau mama papa kan cape!’
Orangtua merengkuh anak saat pulang kerja ‘sini anak-anakku. Siapa dulu yang mau bercerita?’
12 Jan
Semakin bertambah usia, sepertinya batas antara benar atau salah, halal atau haram menjadi semakin pudar. Namun bagiku tetap, ada batas yang jelas antara keduanya, hanya saja mulai banyak alasan-alasan pembenaran yang sepertinya menjadi suatu kelumrahan. Ini bukan lagi soal nilai, tapi mulai lebih kepada realitas.. realitas yang membuat dahaga jiwa.
Apakah sulit mencari nafkah yang halal di jaman ini ? di masa ini ? di ruang lingkup pekerjaan ini ? Pertanyaan ini baru timbul setahun terakhir ini, karena pada masa inilah aku menemui banyak sekali sesuatu yang samar, bahwa rizki seringkali diukur pada banyak SPPD, proyek, jabatan, dan jumlah rupiah yang masuk. Seakan iri pada para penyanyi jalanan, penjual, yang jelas antara hitam dan yang putih, bahkan kelabu pun adalah warna yang nyata jelasnya.
Ya Allah, izinkanlah aku untuk dapat menerima rizki-Mu cukup hanya yang halal saja, yaitu rizki yang memang Engkau ridhoi.
Dan mengenai pekerjaan ini,.. ku mohon untuk dapat kuserahkan pada-Mu saja sepenuhnya, karena aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan.
1 Jan
Klo tahun kemaren menjelang akhir tahun 2007 aku dan istri memantau perkembangan di tv,.. tahun ini dipenghujung 2008 aku online di internet sedangkan istriku asik online dalam mimpi2 di tidurnya.
Taun Baru sebenernya bisa jadi momen yang tepat untuk jadi batu pijakan lagi, untuk melompat lebih tinggi (kata So7). Karena di titik tolak inilah kebanyakan kita bisa memutuskan lagi masa lalu dan kembali menyandarkan harapan di masa mendatang. Pun, karena itu pula aku tidak ingin melepaskan momen ini untuk berlalu begitu saja. Walaupun hanya dengan duduk dan sesekali melihat ke tivi, atawa istriku yang sedang lelap dengan tidurnya. (karena baginya, cara paling istimewa menyambut tahun baru adalah dengan tidur
)
Review and Outlook
Mengutip The JakartaPost untuk kolom akhir tahunnya, sepertinya memang Review dan Outlook adalah “kajian” yang cukup pas untuk dilakukan dalam melepas 2008 dan menyambut datangnya suatu harapan baru di 2009. Aku mo coba ah mereview dulu, apa aja ya yang sudah berhasil dicapai di tahun 2008 lalu…
Outlooknya,.. ? kucatat saja dibuku catatanku.
30 Jun
Sering kali pernyataan itu yang aku baca atau dengar, ketika terjadi pergantian posisi.. entah promosi atau “sekedar” mutasi di institusi. Dan kali ini.. terjadi di tempat dimana aku berada. Ketika yang lain mengalami mutasi atau bahkan promosi, aku.. cukup migrasi, alias pindah meja dan bangku, karena alasan yang sederhana.. mendekati colokan kabel LAN, yang ternyata.. tidak pula berfungsi. Ah, bodohnya..
Kembali ke pernyataan tadi.. jujur, aku coba mencermati.. apakah benar itu hal yang biasa ? sama biasanya dengan gempa yang sering melanda jogja ? atau banjir yang menggenangi jakarta, konon 5 tahun sekali ?
Pergantian.. entah berarti besar atau tidak, pasti dilandasi suatu alasan yang kuat. Jadi,.. tetap buatku ini adalah kejadian luar biasa. Betapa tidak.. pergantian selalu saja diiringi dengan adanya harapan. Harapan yang berangkat dari suatu pelajaran..
Semoga.. harapan ini bisa menjadi kenyataan..
Semoga.. pergantian yang biasa ini, menjadi awal sesuatu yang luar biasa..
Ada pelajaran yang dapat diambil dari semua ini, semoga..
4 Mar
Bekasi, 2 Maret 2008
Andaikan hidup dianalogikan dengan sebuah buku, maka mungkin aku mulai memasuki sebuah bab baru dalam sebuah buku kehidupan. Saat ini, waktu terasa begitu cepat berlalu, nyaris tidak terasa ternyata sabtu kemarin aku mulai kembali ke Jakarta setelah nyaris 10 tahun aku mulai hijrah ke Yogyakarta. Dalam kurun waktu itu, beberapa kali aku memang kembali ke Jakarta untuk beberapa saat, kemudian kembali lagi ke Jogja. Kala itu, hatiku masih merasa jogja adalah rumah, namun kali tidak lagi.
Jakarta,.. aku kembali ke Jakarta. Jalan hidup memang kadang sulit sekali ditebak, ada kalanya semuanya nampak begitu jelas terlihat, namun sering kali kabut begitu pekat menyelimuti sehingga jarak pandang begitu dekat. Dikira akan begini, ternyata begitu..
Departemen Perdaganganlah yang akhirnya menjadi jawaban dari tanda tanyaku selama ini, dibalik begitu banyak pertanda.. kemudahan-kemudahan dibalik kesulitan-kesulitan.
Allah Yang Maha Mengetahui..
Recent Comments